Kebutuhan Zat Gizi pada Balita

Menurut Proverawati (2009) dan Maryunani (2010), Anak balita memerlukan enam zat gizi utama untuk tumbuh dan berkembang, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Zat gizi tersebut digunakan oleh tubuh untuk: menghasilkan tenaga (zat tenaga, yaitu karbohidrat dan lemak), membangun jaringan tubuh dan mengganti jaringan tubuh yang aus/rusak (zat pembangun, yaitu protein) dan zat pengatur (berupa vitamin, mineral, dan air) yang mengatur kegiatan-kegiatan yang terjadi di dalam tubuh.

Pola Menu Seimbang

Menurut Almatsier (2009); Asydhad (2006), Menu seimbang adalah menu yang terdiri dari beraneka ragam makanan dalam jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan. Pola menu seimbang adalah pengaturan makanan yang sehat dengan susunan hidangan menu sesuai dengan kebutuhan gizi esensial dalam jumlah yang ideal serta disesuaikan dengan daya toleransi anak.

Gizi Balita

Pola menu seimbang dikenal dan dikembangkan sejak tahun 1950 dan telah mengakar di kalangan masyarakat dengan slogan: 4 Sehat 5 Sempurna. Pada tahun 1995 Direktorat Gizi Depkes mengeluarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). PUGS merupakan penjabaran lebih lanjut dari pedoman 4 sehat 5 sempurna (Almatsier, 2009).

Menurut Siswanto (2010), Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) berisi:

  1. makanlah aneka ragam makanan,makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi,
  2. makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi,
  3. batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi,
  4. gunakan garam beryodium,
  5. makanlah makanan sumber zat besi,
  6. berikan ASI saja kepada bayi sampai umur enam bulan setelah itu tambahlah MP-ASI,
  7. biasakan makan pagi,
  8. minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya,
  9. lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur,
  10. hindari minum-minuman beralkohol,
  11. makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, dan bacalah label pada makanan yang dikemas.

Porsi Makanan

Makanan bagi anak balita harus mempunyai kandungan air dan serat yang sesuai dengan daya toleransi, tekstur makanannya agak lunak agar mudah dicerna, memberikan rasa kenyang, mencukupi kebutuhan zat gizi dan terjaga kebersihannya. Makanan selingan perlu diberikan kepada balita terutama jika porsi makan utama yang dikonsumsi belum mencukupi.

Makanan selingan diberikan diantara waktu makan pagi dan makan siang (jam 09.00-10.00), atau diantara waktu makan siang dan makan malam (jam 15.00-16.00) (Asydhad, 2006).

a. Porsi makanan untuk balita menurut WHO (2008) dibedakan menjadi:

1. Umur 12 sampai 24 bulan

  • Teruskan pemberian ASI.
  • Berikan makanan keluarga secara bertahap sesuai kemampuan anak.
  • Berikan tiga kali sehari, sebanyak sepertiga porsi makan orang dewasa terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur dan buah.
  • Beri makanan selingan dua kali diantara waktu makan (biskuit,
    kue).

2. Umur 24 bulan atau lebih

  • Berikan makanan keluarga tiga kali sehari, sebanyak sepertiga sampai setengah porsi makan orang dewasa yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur dan buah.
  • Berikan makanan selingan kaya gizi dua kali sehari diantara waktu makan.

b. Upaya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak balita menurut Sulistyoningsih (2011) yaitu:

  • Makanan dihidangkan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
  • Tidak memaksa anak untuk mencoba makanan baru jika anak tidak menghendakinya. Jenis makanan yang baru hendaknya dihidangkan dengan makanan yang disukai anak.
  • Hidangkan makanan yang bervariasi baik bentuk, rasa dan cara penyajian. Pilih alat-alat makan yang disukai anak.
  • Tidak memarahi atau memberikan hukuman ketika anak tidak menghabiskan makanan. Berikan panghargaan/pujian ketika anak berhasil makan dengan baik.
  • Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar makan sendiri sedini mungkin.
  • Mulai usia dua tahun anak sudah mulai dibiasakan makan bersama keluarga.

Bahan Makanan

Bahan makanan bagi anak balita harus dipilih yang tidak merangsang, rendah serat, dan tidak mengandung gas. Penggunaan rempah yang merangsang seperti cabai, asam sebaiknya dihindari, penambahan vetsin sebaiknya dihindari dan sebaiknya menggunakan garam dan gula yang tidak membahayakan tubuh (Asydhad, 2006).

Almatsier (2009) dan Santoso (2004) membagi bahan makanan menjadi:

  • Bahan makanan pokok

Bahan makanan pokok memegang peranan penting, biasa dihidangkan pada waktu makan pagi, siang, dan malam. Pada umumnya bahan makanan pokok jumlahnya (kuantitas/volume) lebih banyak
dibanding bahan makanan lainnya. Bahan makanan pokok merupakan sumber energi dan mengandung banyak karbohidrat. Jenis bahan makanan pokok yang biasa dikonsumsi adalah beras, jagung, gandum,
sagu, umbi-umbian. Bahan makanan pokok merupakan sumber karbohidrat

  • Bahan makanan lauk pauk

Bahan makanan lauk pauk biasa digunakan sebagai teman makanan pokok yang memberikan rasa enak dan merupakan sumber protein. Sebagai sumbernya dikenal bahan makanan berasal dari hewan yang disebut protein hewani seperti daging, ikan, telur, lauk yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati yaitu kacang- kacangan serta hasil olahnya seperti tahu dan tempe. Lauk sebaiknya terdiri dari campuran lauk hewani dan nabati. Lauk hewani mengandung protein dengan nilai biologi lebih tinggi daripada lauk nabati. Bahan makanan lauk pauk lauk, merupakan sumber protein.

  • Bahan makanan sayur mayur

Dalam hidangan orang Indonesia sayur mayur sebagai teman makanan pokok, pemberi serat dalam hidangan. Bahan makanan sayuran biasa berasal dari berbagai jenis tumbuhan seperti batang, daun, bunga, umbi, buah muda. Bagi balita sebaiknya diberikan sayuran yang kadar seratnya tidak terlalu tinggi. Sayur-mayur merupakan sumber vitamin dan mineral. Sayuran berwarna hijau dan sayuran berwarna jingga/oranye seperti wortel dan tomat mengandung lebih banyak zat gizi.

Semakin hijau warna daun sayur, semakin kaya akan zat-zat gizi. Sayuran tidak berwarna, seperti labu siam, ketimun, nangka dan rebung tidak banyak mengandung zat gizi. Dianjurkan sayuran yang dimakan tiap hari terdiri dari campuran daun, kacang-kacangan dan sayuran berwarna jingga.

  • Bahan makanan buah-buahan

Buah biasanya di hidangkan dan disantap terakhir kali dalam suatu acara makan, umumnya buah yang dipilih buah yang matang dan berasa manis. Buah-buahan merupakan sumber vitamin bagi tubuh dan zat pengatur.

  • Susu

Susu merupakan makanan alami yang hampir sempurna. Susu merupakan minuman yang baik bagi balita, selain itu air putih juga baik diberikan. Susu dapat diperoleh dalam berbagai bentuk yaitu bubuk dan cair. Susu merupakan sumber kalsium paling baik. Balita dianjurkan paling kurang minum satu gelas susu sehari. Susu diperoleh dalam bentuk segar, bubuk dan susu kental. Untuk memperoleh susu yang setara dengan susu segar, susu bubuk atau susu kental dicairkan menurut aturan yang biasanya tercantum pada kaleng atau karton pengemas.

  • Lain-lain

Disamping kelima golongan makanan tersebut diatas, menu sehari-hari biasanya mengandung gula dan minyak/kelapa, sebagai penyedap dan pemberi rasa gurih. Gula dan minyak (lemak) merupakan sumber tenaga. Lemak juga berfungsi untuk melarutkan vitamin A, D, E dan K.

Pengolahan Bahan Makanan

Makanan untuk balita sebaiknya diolah agar memiliki tekstur yang lembut. Pengolahan makanan yang tidak tepat akan mengurangi kandungan gizi yang terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu perlu diperhatikan tahap-tahap dalam proses pengolahan bahan makanan (Rusilanti, 2008), yaitu:

  • Pencucian dan pemotongan bahan makanan, proses pencucian bahan makanan sebaiknya dilakukan sebelum pemotongan, dengan menggunakan air bersih yang mengalir. Hal ini dapat mengurangi kehilangan zat gizi, terutama vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C).
  • Pengolahan dengan cara menggoreng, yaitu cara memasak makanan dengan menggunakan minyak panas atau margarine atau zat lemak lain. Langkah yang harus diperhatikan dalam menggoreng yaitu:
  1. Menggoreng sebaiknya tidak menggunakan minyak goreng yang sudah dipakai beberapa kali.
  2. Minyak yang digunakan harus bersih, warna kekuning-kuningan dan jernih, tidak berbau apek.
  3. Bahan makanan sebaiknya digoreng dengan minyak yang sudah panas, sehingga tidak memerlukan waktu yang cukup lama dalam proses penggorengan.
  4. Waktu dan kematangan disesuaikan dengan jenis bahan makanan.
  • Pengolahan bahan makanan dengan cara mengukus, yaitu cara memasak makanan dengan alat yang disebut dandang, risopan atau sublukan. Makanan dimasak dengan uap air yang mendidih dibawah bagian alat memasak. Hal yang perlu diperhatikan dalam mengukus yaitu:
  1. Bahan makanan yang akan dikukus, misalnya daging sebaiknya dibungkus dengan plastik atau daun yang bersih.
  2. Mengukus nasi sebaiknya tidak terlalu lama, kurang lebih 20-30 menit agar zat-zat gizi yang terkandung tidak hilang.
  3. Air dalam alat untuk mengukus sebaiknya dibiarkan mendidih dahulu sebelum memasukkan bahan makanan yang akan dikukus, agar waktu yang digunakan tidak terlalu lama sehingga zat gizi yang terkandung tidak terbuang.
  4. Mengukus sayuran dan protein hewani, sebaiknya dikukus smpai matang.
  • Pengolahan bahan makanan dengan cara merebus, yaitu cara memasak makanan dengan menggunakan air panas secara langsung. Makanan dimasukkan kedalam air yang mendidih dan ditunggu sampai masak. Hal yang harus diperhatikan dalam merebus yaitu:
  1. Merebus bahan makanan yang bertekstur keras sebaiknya dilakukan dengan waktu lebih dari 60 menit atau sampai matang dengan panci tertutup.
  2. Untuk merebus sayuran diperlukan waktu yang singkat dan air perebusannya tidak terlalu banyak. Masukkan sayuran setelah air mendidih. Waktu yang diperlukan untuk merebus sayuran daun kurang dari 5 menit, untuk sayuran buah lebih dari 10 menit, dengan keadaan air rebusan sudah mendidih.
  3. Biarkan panci terbuka selama merebus, agar asap menguap sehingga sayuran tidak berwarna kecoklatan.
  • Pengolahan bahan makanan dengan cara menumis, yaitu cara memasak dengan sedikit minyak atau margarine sampai makanan cukup layu dan biasanya yang ditumis adalah sayuran dan bumbu-bumbu. Hal yang harus diperhatikan dalam menumis yaitu:
  1. Tidak menumis sayuran dengan suhu tinggi dalam waktu lama, karena akan merusak gizi dalam sayuran.
  2. Bahan makanan yang ditumi warnanya harus masih segar dan tidak terlalu layu.
  3. Untuk menumis menggunakan sedikit minyak goreng.
  4. Menambah sedikit air saat menumis agar masakannya tidak kering.

Indikator pengetahuan ibu tentang menu seimbang untuk balita:

  • Pola menu seimbang (pengertian dan cara penyusunan menu)
  • Zat gizi yang dibutuhkan balita (jenis zat gizi dan fungsi zat gizi)
  • Porsi makanan untuk balita (makanan utama dan makanan selingan)
  • Bahan makanan (penggolongan bahan makanan dan kandungan gizi
  • bahan makanan)
  • Cara pengolahan bahan makanan