Halo Sobat Kajian sekolah hari ini saya akan berbagi tips bagaimana cara menulis cerpen dan teknik menulis cerpen yang mudah dan benar, supaya hasil karangan cerpen para sobat dapat diterima dengan baik dan mendapat penilaian yang baik. Baik Langsung aja ya kita awali cara menulis cerpennya ya…!

Perlu diketahui Sob bahwa keterampilan menulis dapat dijumpai pada setiap jenis tulisan, salah satunya cerita pendek. Cerita pendek adalah cerita yang pendek. Namun, tidak setiap cerita yang pendek dapat digolongkan ke dalam cerpen. Cerita pendek adalah cerita yang pendek dan di dalamnya terdapat pergolakan jiwa pada diri pelakunya sehingga secara keseluruhan cerita bisa menyentuh nurani pembaca yang dapat dikategorikan sebagai buah sastra cerpen itu.

Dengan cerita yang pendek itu, seorang cerpenis harus dapat merebut hati pembaca sehingga pembaca seperti diteror dan akan terus bertanya-tanya. Ketegangan yang diciptakan oleh cerpenis sengaja menggelitik perhatian pembaca melalui teknik menulis cerpen yang dipilih dalam menyampaikan misi yang diembannya (Nursisto 2001:165).

CerpenApa sih pengertian cerpen menurut ahli? menurut Nurgiyantoro (2007: 10), cerpen sesuai namanya, adalah cerita pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tak ada satu kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli. Begitu pula pendapat dari para ahli bahwa sebenarnya, tidak ada rumusan yang baku mengenai apa itu cerpen.

 

Menulis cerpen termasuk dalam aktivitas melahirkan pikiran dan perasaan lewat tulisan secara tertata sehingga dipahami oleh pembaca. Sebagai suatu proses, menulis cerpen dapat dikatankan sebagai aktivitas menulis yang dilakukan dalam beberapa tahap.

Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan (1999:3) mengemukakan tiga tahap dalam aktivitas menulis, yaitu:

  • tahap prapenulisan,
  • tahap penulisan,
  • tahap revisi.

Teknik Menulis Cerpen Tahap Prapenulisan

Pada tahap ini merupakan tahap perencanaan atau persiapan menulis. Dalam tahap ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan, yaitu:

Pemilihan topik Cerpen

Topik merupakan bahan atau pokok pembicaraan dalam tulisan. Pemilihan topik ini merupakan langkah awal yang penting karena topik inilah yang menentukan apa saja yang akan dibahas dalam tulisan. Topik tulisan dapat diperoleh dari berbagai sumber.Semi (1990: 11-12) mengemukakan empat sumber dalam pemilihan topic, yaitu pengalaman, pengamatan, imajinasi serta pendapat dan keyakinan.

Pembatasan topik Cerpen

Setelah topik dipilih, topik tersebut perlu dibatasi.Membatasi topik berarti mempersempit dan memperkhusus lingkup pembicaraan dalam penulisan. Topik dapat dibatasi dengan cara membuat bagan, gambar serta diagram. Dalam menemukan ide penulis harus memiliki beberapa referensi dari berbagai hal, baik itu membaca, melihat, atau merasakan. Penulis harus memiliki pengetahuan yang luas agar memiliki banyak ide dalam menulis cerpen, pengetahuan itu dapat diperoleh dari, membaca koran, majalah, buku. Selain itu harus ditopang oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kehidupan penulis agar penulis lebih peka sehingga tulisan yang dihasilkan sesuai dengan kehidupan-kehidupan manusia sekarang. Menggali ide dari realita kehidupan.

Pemilihan judul Cerpen

Topik yang telah dipilih harus dinyatakan dalam judul.Judul harus mencerminkan keseluruhan isi tulisan.Akan tetapi, hal ini tidak berlaku pada karangan fiktif.Judul dibuat secara mana suka oleh pengarangnya. Terkadang judul tulisan dalam karangan fiktif sama sekalitidak berhubungan dengan isi tulisan meskipun pada dasarnya, judul yang dipilih pengarang mengandung makna tertentu.

Di sini, judul sekedar nama atau semacam label dalam karangan. Diungkapkan oleh Sarbati Akhadiah, Maidar G. Arsjad dan Sakura H. Ridwan (1997: 43) bahwa penulisan judul tulisan nonformal tidak terikat pada aturan-aturan seperti ayng berlaku untuk tulisan formal. Penulisan bebas merumuskan judul yang dirasa cocok serta menarik pembaca.Meskipun demikian, perumusan judul harus mengacuhkan kaidah-kaidah umum yang berlaku misalnya menyinggung rasa keagamaan, suku, ras, nilai moral serta falsafah.

Tujuan penulisan cerpen

Tujuan penulisan cerpen merupakan arah atau maksud yang hendak dicapai. Tujuan penulisan harus ditentukan lebih dahulu karena tujuan tersebut akan dijadikan titik tolak dalam seluruh kegiatan menulis. Tujuan penulisan tersebut akan mengarahkan penulis pada jenis tulisan cerpen yang akan dibuat.

Kerangka Cerpen

Kerangka cerpen atau yang sering disebut dengan outline merupakan rencana kerja yang digunakan penulis dalam mengembangkan tulisannya. Menyusun kearangka berarti memecahkan topik ke dalam sub-sub topik. Kerangka ini berupa kerangka topik yang terdiri dari topik-topik serta kerangka kalimat yang terdiri dari kalimat-kalimat.Penyusunan kerangka karangan ini merupakan kegiatan terakhir yang dilakukan pada tahap persiapan.

Teknik Menulis Cerpen Tahap Penulisan

Pada tahap ini, topik-topik yang telah dijabarkan ke dalam sub-subtopik dalam kerangka karangan disusun. Penyusunan tersebut diramu dengan bahan-bahan yang telah didapat.Dalam tahap ini bahasa sangat diperlukan untuk mengemukakan gagasan. Pada tahap penulisan ini perlu diperhatiakan content (isi, gagasan), form (organisasi isi), grammar (tata bahasa dan pola kalimat), style (gaya: pemilihan struktur dan kosa kata) serta mechanics (ejaan) (Burhan Nurgiyantoro, 2001: 306). Berbeda dengan karangan ilmiah, dalam karangan fiktif, aspek-aspek tersebut tidak diberlakukan secara ketat.

Pengembangan alur tidak semudah yang dibayangkan oleh orang pada umumnya, untuk mempermudah dalam mengembangkan alur ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Konflik harus tergarap dengan baik

Konflik yang tidak tergarap dengan baik biasanya tampak pada pengembangan alur cerita yang tidak selesai atau terlalu singkat. Tidak selesai di sini berarti penulis memaparkan peristiwa-peristiwa tetapi belum sampai pada klimaks, cerita sudah ditutup atau diakhiri. Kebanyakan penulis hanya memaparkan masalah-masalah kemudian menjadikan masalah itu sebagai peristiwa-peristiwa cerita tetapi tidak ada yang ditonjolkan menjadi konflik dan klimaks.

Struktur cerita harus proporsional

Beberapa kemungkinan bentuk ketidakproporsionalan alur cerita di antaranya tampak dalam masalah panjang cerita dan pembukaan cerita. Oleh karena itu, penulis tidaklah berbelit-belit dalam menulis agar tidak semakin
mempersempit ruang cerita.

Akhir cerita (ending)

Cara menulis cerpen pada akhir cerita tidak klise dan tidak mudah ditebak Akhir cerita hendaknya tidak mudah ditebak oleh pembaca, agar memperoleh hal itu penulis harus banyak berlatih sebab itu tidak mudah untuk dilakukan. Akhir cerita yang mudah ditebak berawal dari ide cerita yang monoton sehingga jalan cerita juga dapat dengan mudah ditebak oleh pembaca.

Mengembangkan tokoh cerita

Dilihat dari sifatnya tokoh dapat dibagi tokoh protagonis (baik) dan antagonis (buruk). Tokoh dilihat dari keterlibatanya dalam cerita terdapat tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang paling sering mucul dalam cerita dan paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. Sayuti (2009: 58) memaparkan rambu-rambu pengembangan tokoh cerita.

Penggambaran tokoh secara hidup (tidak datar)

Penggambaran tokoh tidak hanya digambarkan berdasarkan nama, bentuk fisik, dan pekerjaan dalam cerita. Tokoh dalam cerita harus mempunyai karakter yang jelas.

Penggambaran tokoh bervariasi

Penokohan secara langsung menjadikan cerita tampak datar, membosankan, dan menyebabkan karakter tokoh tidak kuat. Keberhasilan penulis memunculkan karakter yang kuat pada tokoh-tokohnya akan membuat tokoh-tokoh cerita tersebut menjadi hidup sehingga keterikatan pembaca dengan tokoh cerita dapat terjalin dengan baik.

Tokoh yang dimunculkan harus memiliki sumbangan bagi pengembangan

cerita Penulis memunculkan banyak tokoh tetapi sebenarnya tokoh itu tidak memiliki sumbangan bagi pengembangan cerita. Hal itu menyebabkan cerita menjadi kedodoran, jalan cerita dan panjang tulisannya pendek tetapi tokoh yang disajikan terlalu banyak.

Mengembangkan latar cerita

Latar cerita merupakam unsur fiksi yang mengacu pada tempat, waktu, dan kondisi sosial cerita itu terjadi. Rambu-rambu pengembangan latar cerita (Sayuti, 2009: 71). Latar tergarap dengan baik Latar sering kali hanya disebutkan sebagai nama, misalnya di kampung, pada malam hari, atau pada keluarga miskin, tidak dimanfaatkan untuk membangun cerita. Selain itu, latar tidak digambarkan secara detail yang mengakibatkan penggambaran dalam cerita kurang mendalam.

Diksi dan bahasa dalam fiksi

Bahasa dalam fiksi lebih banyak mengandung makna konotatif. Namun, terdapat perbedaan antara puisi dan cerpen. Bahasa konotatif dalam puisi lebih banyak, sedangkan dalam cerpen selain bahasa konotatif terdapat juga bahasa denotatif. Bahasa yang seperti itu menjadikan bahsa fiksi memiliki rasa sehingga memunculkan emosi pembaca. Diksi juga diperlukan dalam penulisan cerita agar tulisan menjadi lebih menarik. Pemilihan diksi yang tepat akan membantu pembaca masuk ke dalam cerita sehingga menikmati suasana secara langsung dan penghayatan lebih mudah dicapai.

Teknik Menulis Cerpen Tahap Revisi

Tahap revisi dilakukan setelah buram seluruh tulisan telah selesai.Tulisan tersebut perlu dibaca kemudian diperbaiki, dikurangi atau kadang diperluas.Tahap revisi ini juga disebut dengan tahap penyuntingan yang mencakup penyuntingan isi dan penyuntingan bahasa.Penyuntingan isi berkenaan dengan penyuntingan naskah.Adapaun penyuntingan bahasa mencakup ketepatan penyajian.Penyuntingan tulisan disesuaikan dengan jenis naskah, berupa fiksi ataukah nonfiksi. Penyuntingan pada tulisan fiksi lebih diarahkan pada prinsip keindahan misalnya kalimat dengan gaya tertentu, gaya tutur yang mengandaikan, klimaks dan antiklimaks, gaya penyampaian yang mendekatai gaya tutur lisan dan nonformal, lebih menyentuh rasa daripada pikiran, gaya deskripsi yang lebih berkisah dari pada menerangkan dan sebagainya.

Sementara itu, penyuntingan penulisan nonfiksi lebih diarahkan pada prinsip kebenaran.Kalimat-kalimat lugas, formal, lebih menyentuh pikiran daripada rasa serta deskripsi yang lebih bersifat menerangkan. Meskipun demikian, tidak berarti tulisan nonfiksi kering akan akademis. Faktor keindahan juga perlu diperhatikan.Oleh karenanya, deskripsi yang jelas, logis, mengalir, serta enak dibaca juga perlu dipertimbangkan dalam penyuntingan tulisan nonfiksi tersebut.