Pengertian Komunikasi Ilmiah

Prahastuti (2006: 19) menjelaskan tentang asal kata komunikasi ilmiah berdasarkan pendapat Corea. Dituliskan bahwa komunikasi berasal dari kata latin “communicare” yang artinya membuat jadi biasa, berbagi, mengimpor dan mentranmisikan dan selanjutnya dari kata ini muncul kata communication, communicate, communicator dan sebagainya. Sedangkan istilah ilmiah (scholarly atau scientific) umumnya digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan penelitian atau investigasi, khususnya dalam lingkungan ilmuwan dan peneliti. Dengan demikian komunikasi ilmiah (scholarly or scientific communication) adalah komunikasi yang umumnya berkaitan dengan kegiatan-kegiatan penelitian atau penyelidikan, khususnya di lingkungan akademik. Liu (2007: 112) menuliskan bahwa :

“Komunikasi ilmiah berkaitan dengan pemanfaatan dan penyebaran informasi di lingkungan akademik baik melalui saluran formal maupun informal. Seorang penulis mengkomunikasikan pengetahuannya pada masyarakat melalui media rekam formal seperti buku, jurnal, prosiding dan lain-lain dan diskusi serta berbagi ide melalui kegiatan komunikasi informal seperti tanya jawab, ceramah, telepon, e-mail, surat dan lain-lain”

Dalam memahami konsep Fisika diperlukan sarana komunikasi yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Salah satu model pelajaran alternatif agar dapat memahami konsep Fisika adalah dengan memvisualisasikan konsep Fisika yang abstrak ke dalam kehidupan nyata sehari-hari sehingga tampak menjadi lebih konkret. Visualisasi konsep-konsep Fisika tersebut antara lain dengan cara membuat sketsa, analogi dan mempergunakan komputer, khususnya dengan mempergunakan perangkat lunak Spreadsheet misalnya Microsoft Excel (Wahyudi, 2009).

Format Laporan Praktikum

Pelajaran Fisika sering dirasakan sebagai mata pelajaran yang sukar dipahami oleh siswa (Agus, 1978:45). Senada dengan Agus, Dhadhang Eko Yulianto (2002:54) juga berpendapat bahwa Fisika merupakan sala satu pelajaran yang oleh sebagian siswa dipandang sulit. Kesulitan-kesulitan itu disebabkan berbagai konsep, prinsip, hokum, teori dalam Fisika terkesan rumit, ditambah lagi guru kurang menunjukan contoh-contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berakibat prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Fisika rata-rata rendah, baik di Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) serta di perguruan Tinggi.

Dari beberapa pendapat dan hasil penelitian tentang ketidakmampuan siswa dalam menyelesaikan soal Fisika yang disebabkan karena dalam mempelajari Fisika masih menggunakan pola lama yakni mengahafal rumus. Karena itu perlu diadakan pembelajaran alternatif yang akan mengubah pola lama tersebut sehingga hasilnya akan lebih efektif.

Pembelajaran Fisika dilakukan dengan komunikasi ilmiah dengan cara memvisualisasikan konsep Fisika dalam kehidupan nyata sehari-hari. Yang dimaksud dengan memvisualisasi konsep Fisika kedalam kehidupan nyata sehari-hari adalah setiap gambar, model, benda atau alat lain yang memberikan pengalaman visual yang nyata kepasa siswa yang bertujuan untuk memperjelas konsep-konsep Fisika menjadi lebih konkret.

Karso dkk (1993) mengungkapkan bahwa indikator komunikasi ilmiah meliputi :

  • menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematik dan jelas,
  • menjelaskan hasil percobaan,
  • mendiskusikan hasil percobaan,
  • mengklasifikasikan data dan menyusun data serta
  • menggambarkan data dalam grafik, tabel, atau diagram.

Sutardi (2008) mengungkapkan kemampuan siswa berkomunikasi ilmiah meliputi kemampuan membuat tabel perhitungan, membuat grafik, dan mengintepretasikan grafik. Kemampuan berkomunikasi ilmiah dapat diukur dengan pengamatan terhadap siswa dalam praktikum.

Sistematika laporan Praktikum

Penyusunan laporan praktikum merupakan salah satu kegiatan dalam proses belajar mengajar dalam Fisika. Laporan praktikum juga menjadi salah satu aspek penilaian dalam nilai tugas yang akan diberikan pada setiap praktikan. Pembuatan laporan Praktikum Fisika ditujukan agar siswa dapat belajar untuk mengemukakan pendapat/berkomunikasi dengan tulisan. Laporan Praktikum Fisika melatih siswa agar dapat mempersiapkan diri untuk praktikum, menganalisis hasil praktikum dan membuat perhitungan untuk menentukan besaran Fisika, mengetahui beberapa besaran dari percobaan, menganalisa kesalahan dan akhirnya membuat kesimpulan secara keseluruhan.

Menurut Yuli (2011) format laporan praktikum yang benar meliputi :

  1. Halaman Sampul yang berisi judul praktikum dan identitas praktikan
  2. Tujuan Praktikum yang berisi tujuan praktikum sesuai dengan percobaan yang dilakukan
  3. Dasar Teori yang menguraikan teori, temuan, dan bahan referensi lain yang diperoleh dari acuan, yang dijadikan landasan untuk melakukan suatu praktikum. Dasar Teori dibawa untuk menyusun kerangka atau konsep yang akan digunakan dalam praktikum yang mengacu pada Daftar Pustaka. Sumber pustaka yang digunakan diiusahakan pustaka terbaru, relevan dan asli dari buku, artikel, atau jurnal ilmiah.
  4. Alat berisi semua alat yang digunakan, jika ada tuliskan spesifikasinya (merek dan ukuran)
  5. Bahan berisi semua bahan yang digunakan beserta spesifikasinya
  6. Prosedur Kerja/Cara kerja berisi langkah kerja yang bisa dalam bentuk diagram alir (flowchart) sedemikian hingga prosedur kerja tidak berupa kalimat. Jika menggunakan kata kerja, gunakan bentuk kata kerja pasif. Flowchart dibuat dengan bagan-bagan yang mempunyai arus yang menggambarkan langkah atau prosedur dalam percobaan yang dibuat secara sederhana, terurai, rapi dan jelas dengan menggunakan simbol-simbol standar.
  7. Data Pengamatan yang berisikan semua data setiap langkah yang dilakukan sesuai dengan hasil percobaan. Data pengamatan dapat dibuat dalam bentuk tabel atau kalimat yang sederhana. Data pengamatan dituliskan sesuai dengan urutan prosedur kerja yang telah dilakukan yang merupakan jawaban sementara dari tujuan percobaan. Penulisan data pengamatan yang baik akan memudahkan dalam penyusunan analisis data, pembahasan dan kesimpulan.
  8. Analisa data berisi data dengan perhitungan atau dengan suatu uji statistika sesuai dengan tujuan percobaan.
  9. Pembahasan menguraikan semua langkah yang telah dilakukan (bukan berisi cara kerja), hasil dan data yang telah dicapai, dan kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan. Pembahasan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah. Kalimat ditulis mengikuti kaidah penulisan kalimat yang baik, yang terdiri dari subyek, predikat, obyek, dan keterangan. Pembahasan minimal menguraikan jawaban pada pertanyaan pada buku panduan. Gunakan berbagai sumber referensi sebagai pembanding.
  10. Kesimpulan berisi jawaban sesuai dengan tujuan percobaan yang ditulis dalam kalimat yang sederhana.
  11. Lampiran berisi laporan sementara dan lampiran pendukung lain jika diperlukan.

Penjelasan hasil percobaan

Kemampuan menjelaskan hasil pengamatan merupakan kemampuan siswa dalam memaparkan temuan atau data yang mereka alami saat melakukan percobaan. Data hasil praktikum tidak hanya dikumpulkan dan diolah, tetapi juga perlu disajikan dalam bentuk yang mudah dibaca dan dimengerti oleh pengambil keputusan. Penyajian data ini bisa dalam bentuk tabel dan grafik, oleh karena itu lebih dengan cepat ditangkap dan dimengerti. Tabel adalah kumpulan angka- angka yang disusun menurut kategori. Grafik adalah gambaran yang menunjukan secara visual data berupa angka. Hasil pengamatan yang akan diamati dalam penelitian ini adalah sajian data dengan tabel ataupun dengan grafik dan menyangkup semua hasil pengamatan. Hasil percobaan ini dijelaskan di dalam laporan praktikum siswa (Risty, 2013).

Mendiskusikan hasil percobaan


Diskusi sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251). Manakala salah satu diantara siswa berbicara, maka siswa-siswa lain yang menjadi bagian dari kelompoknya aktif mendengarkan. Siapa yang berbicara terlebih dahulu dan begitu pula yang menanggapi, tidak harus diatur terlebih dahulu. Dalam berdiskusi, seringkali siswa saling menanggapi jawaban temannya atau berkomentar terhadap jawaban yang diajukan siswa lain. Demikian pula mereka kadang-kadang mengundang anggota kelompok lain untuk bicara, sebagai nara sumber. Dalam penentuan pimpinan diskusi, anggota kelompok dapat menetapkan pemimpin diskusi mereka sendiri. Sehingga melalui metode diskusi, keaktifan siswa sangat tinggi (Mc.Keachie dan Kulik , 1984: 487)

Menurut Maiyer (dalam Depdikbud,1983:29) diskusi kelompok kecil, dapat meningkatkan siswa untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Untuk itu, bilamana guru menginginkan keterlibatan anak secara maksimal dalam diskusi, maka jumlah anggota kelompok diskusi perlu diperhatikan guru. Jumlah anggota kelompok diskusi yang mampu memaksimalkan partisipasi anggota adalah antara 3-7 anggota. Dari hasil pengamatan, kelompok diskusi yang jumlah anggotanya antara 3-7 itu saja, anggota yang diduga kurang berpartisipasi penuh berkisar 1-2 orang.

Dalam diskusi dengan jumlah anggota yang relatif kecil memungkinkan setiap anak memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi. Masalah atau isu yang dijadikan topik diskusi hendaknya yang sesuai dengan minat anak. Masalah diskusi yang cocok dengan minat anak dapat mendorong keterlibatan mental dan keterlibatan emosional siswa secara optimal. Melalui penggunaan metode diskusi, siswa juga mendapat kesempatan untuk latihan keterampilan berkomunikasi dan keterampilan untuk mengembangkan strategi berfikir dalam memecahkan masalah. Namun demikian pembelajaran dengan metode diskusi semacam ini keberhasilannya sangat bergantung pada anggota kelompok itu sendiri dalam memanfaatkan kesempatan untuk berpatisipasi dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan proses diskusi, peranan pemimpin diskusi sangat menentukan.

Mengklasifikasikan data dan menyusun data

Klasifikasi adalah sebuah proses untuk menemukan model yang menjelaskan atau membedakan konsep atau kelas data, dengan tujuan untuk dapat memperkirakan kelas dari suatu objek yang kelasnya tidak diketahui (Tan dkk, 2004). Data yang telah dikumpulkan dan diolah baik dari populasi maupun dari sampel selanjunya perlu ditata atau diorganisir,yaitu disajikan secara sistematis dan rapi sehingga dapat dengan mudah dan cepat dimengerti oleh orang lain,yang berkepentingan dengan data tersebut. Seperti para pengambil keputusan atau eksekutif, manager, direktur dan lainya. Secara garis besar ada dua cara untuk menyajikan data yaitu dengan tabel dan grafik. Penyajian data dengan tabel atau grafik saling berkaitan satu sama lainya, karena sebelum dibuat grafik terlebih dahulu di buat tabel. Penyajian dengan grafik dikatakan lebih komonikatif, karena dalam waktu singkat seseorang dapat dengan cepat memperoleh gambaran dan kesimpulan mengenai suatu keadaan dengan membaca data tabel dan grafik. Dalam pengumpulan dan pengolahan data ada dua cara metode yang digunakan, yaitu metode secara elektronik dan manual. Metode elektronik adalah pengembangan ilmu pengetahuan dibidang komputer yang sangat membantu kegiatan statistik. Sedangkan metode manual adalah umumnya dilakukan untuk jumlah observasi yang tidak terlalu banyak.

Menggambarkan data dalam grafik, tabel, atau diagram

Hasil suatu percobaan dapat disajikan melalui tiga jenis penyajian yakni : penyajian tekstual, penyajian tabular, dan penyajian grafik. Lazimnya, praktikan menyajikan dengan kombinasi dua teknik yaitu tekstual dan tabular, dan/atau tekstual dan grafik, maksudnya, data disajikan melalui teks secara naratif, kemudian informasi yang sama juga disajikan lagi dengan menggunakan tabel atau grafik. Dalam penyajian tekstual, peneliti diwajibkan untuk mendeskripsikan data sejenis dan serinci mungkin, tetapi tidak harus menyajikan semua hal. Yang harus disajikan secara naratif adalah hal yang menonjol dari data tersebut, misalnya presentase (frekuensi) terbesar, presentase (frekuensi) terkecil, rerata terkecil, rerata terbesar, atau hubungan yang bermakna. Informasi lain yang lebih detail bisa diperoleh oleh pembaca dari tabel atau grafik. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat membuat tabel antara lain :

  1. Data yang disajikan dalam tabel adalah data yang sudah diolah/dikelompokkan dalam kategori-kategori, interval-interval, atau sudah dihitung ukuran-ukuran deskriptifnya), bukan data kasar. Data kasar dirangkum dalam sebuah tabel master, yang diletakkan dalam lampiran.
  2. Kategori dalam tabel bisa menggunakan kolom saja, atau baris saja, atau keduanya, yang disebut dengan tabel silang (cross tabulation). Kategorinya bisa bersifat kuantitatif, kualitatif, aau kombinasi keduanya.
  3. Kecuali penyajian tabel untuk menghiung odds-ratio (OR) dan risk-ratio (RR), maka variabel pengaruh diletakkan pada kolom dan variabel terpengaruh pada baris.
  4. Tabel harus sederhana agar mudah difahami oleh pembaca. Artinya, dalam satu tabel jangan dimasukkan terlalu banyak informasi (maksimal dua variable). Bila informasi yang akan disajikan banyak, sajikanlah dalam beberapa tabel.
  5. Penyajian tabel harus independen, artinya, untuk memahahami isi tabel pembaca tidak perlu harus membaca teksnya terlebih dahulu. Agar independen, maka sebuah tabel haruslah menerangkan dirinya sendiri (self-explanation). Agar bisa self-explanation, maka sebuah tabel haruslah berisi penjelasan yang lengkap, ang berkaitan dengan judul,kode/symbol yang digunakan, label pada kolom dan baris dari sumber data.
  6. Judul tabel harus dibuat seringkas mungkin. Judul lazimnya menjelaskan tiga hal, yakni : apa, dimana, dan kapan. Judul tabel ditulis diatas tabel, di tengah (center), dengan format kerucut terbalik.
  7. Bila di dalam tabel digunakan symbol-simbol (terutama yang jarang digunakan, misalnya N, singkatan dari Newton) maka haruslah dijelaskan.
  8. Kategori atau label sebagai kepala kolom dan baris harus ditulis dengan jelas.
  9. Keterangan-keterangan yang berkaitan dengan isi tabel ditulis dibagian kiri bawah tabel.
  10. Bila tabel menyajikan data sekunder, harus disebutkan sumber data tersebut. Tujuannya adalah untuk menghormati hak kekayaan intelektual peneliti atau institusi pemilik data tersebut. Sumber ditulis di bawah kanan tabel. Bila data yang disajikan adalah data primer, maka sumber tidak ada.
  11. Sebuah tabel tidak boleh dipotong (disajikan dalam dua halaman yang berbeda.

Menurut Bambang (2010) grafik adalah metode penyajian data dengan menggunakan gambar-gambar yang umumnya digunakan untuk melihat perubahan yang terjadi dalam sebuah variabel atau untuk membandingkan beberapa variabel yang memiliki karakteristik yang sama.

Sebuah grafik hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan menekankan pada aspek-aspek penting dari data yang disajikan. Kecenderungan untuk memasukkan terlalu banyak informasi dalam sebuah grafik haruslah dihindarkan karena hal ini tidak akan memberikan informasi tambahan yang berarti bahkan dapat membingungkan pembacanya. Adakalanya hasil praktikum disajikan dengan menggunakan grafik. Pada kenyatannya grafik memang lebih impresif (menarik minat pembaca) daripada tabel, akan tetapi pembuatan tabel lebih mudah daripada pembuatan grafik. Terdapat beberapa macam bentuk grafik diantaranya : grafik batang (bar graph), diagram frekuensi, histogram, diagram garis (line diagram), diagram pencar (scatter diagram), pie digram, dan Box plot.

1) Diagram garis
Diagram garis umumnya digunakan untuk melihat perkembangan suatu gejala atau fakta yang terkait dengan dimensi waktu. Dengan diagram ini maka konsumen akan lebih mudah melihat bagaimana berfluktuasinya nilai data yang sedang diamati. Untuk menggambarkannya sumbu tegak (sumbu-y) digunakan untuk menyatakan data yang diamati, sedangkan sumbu mendatar (sumbu-x) untuk menyatakan waktu.
2) Kurva
Kurva sebenarnya sama saja dengan diagram garis kecuali tujuannya adalah untuk melukiskan suatu hubungan yang kontinu. Umumnya kurva digunakan untuk data hasil eksperimen dalam upaya untuk menggambarkan hubungan antara dua deret data. Kurva dua dimensi juga terdiri dari sumbu tegak dan sumbu mendatar. Setelah data diplot, kemudian dibuat kurva yang mendekati titik-titik pada grafik. Biasanya untuk menggambarkan kurva ini digunakan pendekatan melalui persamaan matematis.
3) Diagram Batang
Diagram batang merupakan salah satu bentuk penyajian data secara visual. Diagram batang sangat tepat digunakan jika variabel berbentuk kategori maupun atribut. Demikian pula data tahunan, asalkan jumlah tahunnya tidak terlalu banyak. Diagram batang bisa digambarkan secara vertikal (sejajar dengan sumbu-y) dan horizontal (sejajar dengan sumbux). Yang mana yang akan dipilih tergantung selera si penyaji data. Yang terpenting adalah gambaran yang disajikan bisa menarik perhatian pembaca dan mudah disimpulkan
4) Diagram Lingkaran
Jika diagram batang dapat digunakan untuk membandingkan sejumlah variabel, selama variabel ini bisa diukur paling sedikit satu aspek, maka diagram lingkaran dapat digunakan bilamana variabel-variabel dijumlahkan ke dalam suatu jumlah tertentu sedemikian rupa sehingga setiap variabel dapat dinyatakan sebagai persentase dari jumlah tersebut. Lingkaran yang memiliki jumlah sudut 3600 dapat dibagi kedalam segmen-segmen untuk menunjukkan nilai penting relatif dari setiap variabel.
5) Diagram Gambar
Diagram gambar pada pinsipnya sama dengan diagram batang, hanya saja fakta yang ada disajikan dalam bentuk gambar-gambar miniatur. Intinya diagram ini ditujukan untuk menarik perhatian konsumen atau pembaca. Penyajian diagram gambar ini boleh dikatakan sebagai salah satu kerja seni yang dipadukan dengan informasi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat membuat grafik adalah :

  1. Grafik harus dibuat sederhana tetapi jelas. Agar sederhana dan jelas, dalam grafik tidak lebih dari dua variabel saja. Bila variabel yang hendak disajikan banyak, sajikanlah dalam beberapa grafik.
  2. Grafik juga harus memenuhi self-explanation.
  3. Jika tidak diperlukan, grafik tidak perlu digambar dalam bentuk tiga dimensi.
  4. Judul grafik harus ringkas dan jelas (memuat informasi berkenaan dengan apa, dimana, dan kapan). Berbeda dengan tabel, judul grafik ditulis di bawah grafik, di tengah, dengan format kerucut terbalik.
  5. Judul sebuah grafik tidak menggunakan istilah (kata) grafik, melainkan gambar. Gambar (figure) mencakup grafik, gambar, sketsa, peta, foto, dan skema.