Keaktifan Menulis

Keaktifan siswa adalah salah satu variabel yang berhubungan positif dengan keterampilan menulis teks eksposisi.Keaktifan siswa merupakan unsur pendukung belajar dari dalam diri siswa.Melalui kekatifan siswa mampu melakukan pemecahan masalah yang maksimal serta memproduksi suatu teks dengan baik melalui perolehan wawasan yang untuk menyelesaikan hambatan yang ditemui siswa saat memproduksi teks, khususnya teks eksposisi.

Pengertian Keaktifan Menulis

Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi Gage dan Berliner (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006 : 45). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu.Anak mampu untuk mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menentukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan.

Komunikasi Ilmiah

Ahmadi dan Prasetya (1977:57) membagi keaktifan menjadi dua yaitu keaktifan jasmani dan keaktifan rohani.Keaktifan jasmani yaitu murid berbuat dengan seluruh anggota badannya, seperti membuat sesuatu, bermain maupun bekerja.Jadi tidak hanya duduk melihat, mendengarkan dan pasif semata. Termos (2013: 67) mengemukakan bahwa “Active learning, on the other hand, involves an interactive environment in which questions, participations, and critical thinking are essential. The efforts exerted to increase engagement are extensive in instigating students’ involvement and interest as well as enhancing their understanding” Pembelajaran aktif merupakan pembelajaran dengan paradigma yang baruyang dapat meningkatkan pemahaman siswa.

Dari teori – teori di atas dapat disimpulkan bahwa keaktifan adalah siswa aktif mengolah informasi yang diterima dan berusaha dengan seluruh anggota badannya untuk mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menentukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan mengenai materi dalam pembelajaran yang sedang dilaksanakanya.

Jenis-jenis Keaktifan Menulis

Keaktifan terklasifikasi dalam beberapa kegiatan. Aktifitas utamanya dalam hal pembelajaran bahasa terbagi menurut menurut empat keterampilan berbahasa, salah satunya adalah menulis. Keaktifan dalam menulis merupakan hal penting untuk dapat ditingkatkan dalam pembelajaran bahasa. Menurut Paul D. dalam Doly (2015: 3) jenis keaktifan belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Kegiatan visual (visual activities), yaitu membaca, melihat gambargambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati pekerjaan orang lain
  2. Kegiatan lisan (oral activities), yaitu mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi
  3. Kegiatan mendengarkan (listening activities), yaitu mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan
  4. Kegiatan menulis (writing activities), yaitu menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket
  5. Kegiatan menggambar (drawing activities), yaitu menggambar, membuat grafik, diagram peta, dan pola

Upaya Meningkatkan Keaktifan Menulis

Menurut Gagne dan Briggs dalam Martinis (2013: 84) menjelaskan rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam kelas merupakan faktor yang mempengaruhi keaktifan dalam belajar untuk menumbuhkan aktivitas dan partisipasi siswa, masing-masing diantaranya yaitu:

  1. Memberikan dorongan atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran
  2. Menjelaskan tujuan intruksional (kemampuan dasar kepada siswa)
  3. Mengingat kompetensi belajar kepada siswa
  4. Memberikan stimulus (masalah, topik dan konsep yang akan dipelajari)
  5. Memberikan petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya.
  6. Memunculkan aktivitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran
  7. Memberi umpan balik (feed back)
  8. Melakukan tagihan-tagihan kepada siswa berupa tes, sehingga kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur
  9. Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan di akhir pelajaran.

Dengan meningkatkan keaktifan siswa melalui beberapa hal di atas maka dapat pula meningkatkan hasil belajar siswa terutama dalam hal menulis. Keaktifan merupakan variabel yang disinyalir mampu mempengaruhi hasil belajar siswa. Seperti pada hasil penelitian Ramlah, Firmasyah, dan Zuabair (2014) dengan judul “Pengaruh gaya Belajar dan Keaktifan Siswa terhadap Prestasi Belajar Matematika (Survai Pada SMP Negeri di Kecamatan Klari Kab. Karawang). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar Matematika. Untuk mengetahui pengaruh keaktifan siswa terhadap prestasi belajar Matematika serta untuk mengetahui pengaruh gaya belajar dan keaktifan siswa terhadap prestasi belajar Matematika.

Keaktifan Menulis

Metode penelitian yang digunakan adalah ekpos facto.Sampel berukuran 235 siswa yang dipilih secara random sampling dari seluruh siswa SMP N yang ada di kecamatan Klari kabupaten Karawang. Pengumpulan data dilaksanakan dengan teknik penyebaran angket gaya belajar dan angket keaktifan siswa. Analisis data dengan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas dan homogenitas, dan uji ANOVA. Penelitian tersebut dilaksanakan dari bulan Juni sampai Juli 2014.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan gaya belajar terhadap prestasi belajar matematika, hal ini ditunjukan dengan nilai sig = 0,001 < 0,05. Terdapat pengaruh yang signifikan keaktifan terhadap prestasi belajar matematika, hal ini dapat dilihat dari nilai F hitung = 13,418 > F tabel = 3, 08, dengan sig= 0,00< a = 0,05. Sehingga, menolak hipotesis , tidak terdapat pengaruh interaksi metode pembelajaran kooperatif dan gaya belajar terhadap prestasi belajar Matematika.

Adapun penelitian yang mendukung keterkaitan antara variabel keaktifan dengan pembelajaran bahasa tersmasuk pembelajaran menulis ditinjukan dalam sebuah hasil penelitian Aidinlou dan Gobhadi tahun 2012 dengan judul “Examination of Relationships between Factors Affecting on Oral Participation of ELT Students and Language Development: A Structural Equation Modeling Approach”.Penelitian tersebut bertujuan untuk membuktikan bahwa partisipasi kelas dianggap sebagai variabel yang memiliki hubungan positif dengan pembelajaran bahasa. Pada pembelajaran bahasa siswa diharapkan muncul secara aktif ke dalam proses pembelajaran untuk membantu memperkuat transfer materi dengan memunculkan keaktifan dalam kelas. Pada penelitian tersebut menunjukan bahwa Partisipasi Oral (OP) penting bagi siswa dari Pelatihan Bahasa Inggris (ELT). Penelitian ini mencoba untuk menentukan faktor siswa yang paling berpengaruh dalam partisipasi lisan mereka di kelas bahasaasing dan hubungan dengan Inggris perkembangan bahasa (ELD). Pengolahan data penelitian tersebut menggunakan software LISREL untuk menentukan persamaan struktural pemodelan.Interpretasi dari hasil yang diperoleh dari SEM dan hasil hipotesispengujian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor yang mempengaruhi partisipasi lisan dan jugahubungan antara partisipasi lisan dan perkembangan bahasa. Hasil SEM menunjukkan bahwamodel akhir berdasarkanELT telah membuktikan bahwa ELD dikendalikan dengan OP sebesar 65%.Oleh karena itu, model yang diusulkan dari penelitian ini dapat meningkatkan keberhasilan studi ELD di L2. Oleh karena itu model akhir telah membuktikanbahwa ELD dikendalikan olehfaktor pendidikan (EF) lebih dari faktor-faktor sosial (SOF) dan faktor siswa (SF).Struktur umummodel yang disajikan harus berlaku untuk siswa dari ELT danlingkungan belajar bahasa kedua. Temuanmenyarankan studi kasus ini sesuai dengan kriteria yang unik dari pelajar ‘bahasa kedua’.

Pada penelitian Aidinlou, Assadi dan Ghobadi, Partisipasi siswa merupakan keaktifan dalam pembelajaran bahasa. Partisispasi siswa atau keaktifan dalam penelitian tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa pada penelitian tersebut memang hanya dalam lingkup berbicara. Namun demikian, empat keterampilan dalam berbahasa sangat berkaitan erat sepertihalnya berbicara dengan menulis utamanya menulis teks eksposisi. Hal tersebut menunjukan bahwa hasil penelitian di atas mempu menjadi acuan dasar terlaksananya penelitian ini dengan hipotesis bahwa keaktifan memiliki hubungan positif terhadap keterampilan menulis teks eksposisi. Pada hasil Ramlah, Firmansyah, dan Zubair menunjukan pengaruh keaktifan dengan prestasi belajar matematika. Meskipun demikian, dapat dijadikan dasar pelaksanaan penelitian yang menguji hubungan antara variabel keaktifan dengan pembelajaran bahasa, utamanya dalam hal menulis teks eksposisi mengingat keaktifan merupakan variabel yang berpengaruh pada pembelajaran apapun termasuk pembelajaran bahasa.

Indikator Keaktifan Menulis

Keaktifan dapat dilihat dari beberapa ciri penanda.Ciri penanda keaktifan dapat dilihat dari keterlibatan siswa secara optimal dalam pembelajaran.Keterlibatan tersebut dapat berbentuk sering bertanya, berpendapat, berdiskusi, dan terlibat penuh dalam pemecahan masalah. Seperti pendapat Sudjana (2005 :61) keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal:

  • Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya;
  • Terlibat dalam pemecahan masalah;
  • Bertanya kepada siswa lain/ kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya;
  • Berusaha mencari berbagai informasi yang diperoleh untuk pemecahan masalah.
  • Melaksanakan diskusi kelompok;
  • Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang diperolehnya;
  • Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas / persoalan yang dihadapinya;
  • Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas / persoalan yang dihadapinya

Dari ciri – ciri keaktifan menurut Sudjana di atas, maka dapat diambil delapan indikator antara lain

  1. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya: Maksud dari indikator ini adalah siswa ikut serta dalam proses pembelajaran misalnya siswa mendengarkan, memperhatikan, mencatat dan mengerjakan soal dan sebagainya.
  2. Terlibat dalam pemecahan masalah: Maksud dari indikator tersebut adalah ikut aktif dalam menyelesaikan masalah yang sedang dibahas dalam kelas, misalnya ketika guru memberi masalah/ soal siswa ikut membahas.
  3. Bertanya kepada siswa lain/ kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya: Maksud dari indikator tersebut adalah jika tidak memahami materi/ penjelasan dari guru hendaknya siswa melontarkan pertanyaan, baik pada guru/siswa lain.
  4. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperoleh untuk pemecahan masalah: Maksud indikator tersebut adalah berusaha mencari informasi /cara yang bisa digunakan dalam menyelesaikan suatu masalah /soal. Yaitu siswa mencari informasi dari buku.
  5. Melaksanakan diskusi kelompok: Maksud dari indikator tersebut adalah melakukan kerja sama dengan teman diskusi untuk menyelesaikan masalah/soal.
  6. Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang diperolehnya: Maksud dari indikator tersebut adalah menilai kemampuan dirinya yaitu dengan mencoba mengerjakan soal setelah guru menerangkan materi.
  7. Melatih diri dalam memecahkan soal/ masalah, yaitu siswa dapat mengerjakan soal/ permasalahan, dengan mengerjakan LKS: Maksud dari indikator tersebut adalah dapat menyelesaikan soal/ masalah yang pernah diajarkan/ dibahas bersama. Yaitu siswa mengerjakan LKS.
  8. Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas / persoalan yang dihadapinya: Maksud dari indikator tersebut adalah menggunakan/ menerapkan rumus/langkah – langkah yang telah diberikan dalam soal yang dihadapi dalam kelas.