Pengertian Etos

Keberhasilan suatu organisasi dalam menghadapi perubahan sangat ditentukan oleh sumber daya manusianya. Pada akhirnya perhatian lebih banyak tertuju pada faktor-faktor yang mempengaruhi sikap individu terhadap perubahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap individual tehadap perubahan adalah keterlibatan dalam pekerjaan serta komitmen pada organisasi.

Pengertian kamus bagi perkataan “etos” bermakna watak atau karakter (dalam Tasmara, 1997:25). Etos yang berasal dari kata Yunani, dapat mempunyai arti sebagai sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Dari kata ini lahirlah apa yang disebut dengan “ethic” yaitu pedoman, moral, dan perilaku, atau dikenal pula etiket yang artinya cara bersopan santun. Sehingga dengan kata etik ini, dikenallah istilah etika bisnis yaitu cara atau pedoman perilaku dalam menjalankan suatu usaha dan sebagainya (Tasmara, 1997: 25).

Etos Kerja Islam

Maka secara lengkapnya “etos” ialah karakteristik dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan, dan seterusnya, yang bersifat khusus tentang individu atau sekelompok manusia. Dan dari perkataan etos terambil pula perkataan etika dan etis yang merujuk kepada makna akhlaq atau bersifat akhlaqi, yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok, termasuk suatu bangsa juga dikatakan bahwa etos berarti jiwa khas suatu kelompok manusia, yang dari jiwa khas itu berkembang pandangan bangsa tersebut tentang yang baik dan yang buruk, yakni, etikanya (Madjid, 2000: 410).

Penegrtian etos, menurut Clifford Geertz (dalam Rozak, 1997:206) adalah sikap yang mendarah terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup.

Definisi etos adalah sikap evaluatif yang bersifat menilai. Etos kerja, dengan demikian, adalah sikap mental atau cara diri dalam memandang, mempersepsi, menghayati dan menghargai sebuah nilai kerja.

Karena etika berkaitan dengan nilai kejiwaan seseorang, maka hendaknya setiap pribadi muslim harus mengisi etika tersebut dengan keislamannya dalam arti yang aktual, sehingga cara dirinya mempersepsi sesuatu selalu positif dan sejauh mungkin terus berupaya untuk menghindari yang negatif.

Etika yang juga mempunya makna kesusilaan, adalah suatu pandangan batin yang bersifat mendarah daging. Bukan pandangan yang bersifat sosiologis, tetapi benar-benar sebuah keyakinan yang mengakar sedalam-dalamya.

Pengertian Kerja.

Hampir di setiap sudut kehidupan kita akan menyaksikan begitu banyak orang yang bekerja. Para selesman yang hilir mudik mendatangi toko dan rumah-rumah, para guru yang tekun berdiri di depan kelas, serta segudang profesi lainnya.

Baca Juga: Kepuasan Kerja

Mereka semua melakukan kegiatan (aktivitas), tetapi lihatlah bahwa dalam setiap aktivitasnya itu ada sesuatu yang dikejar, ada tujuan serta usaha (ikhtiar) yang sangat bersungguh-sungguh untuk mewujudkan aktivitasnya tersebut mempunayi arti.

Walau demikian, tidaklah semua aktivitas manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk pekerjaan. Karena di dalam makna pekerjaan terkandung tiga aspek yang harus dipenuhinya secara nalar, yaitu (Tasmara, 1997:27).

  • Bahwa aktivitasnya dilakukan karena ada dorongan tanggung jawab (motivasi)
  • Bahwa apa yang yang dia lakukan tersebut dilakukan karena kesengajaan, sesuatu yang direncanakan, karenanya terkandung di dalamnya suatu gabungan antara rasa dan rasio.
  • Bahwa yang dia lakukan itu, dikarenakan adanya sesuai arah dan tujuan yang luhur (aim, goal), yang secara dinamis memberikan makna bagi dirinya, bukan hanya sekedar kepuasan biolgis statis tetapi adalah sebuah kegiatan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya agar dirinya mempunyai arti.

Di sisi lain makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sunguh, dengan mengerahkan seluruh asset, fikir dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik atau dengan kata lain juga kita katakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.

Pengertian etos kerja Islam

Dari penjelasan diatas nampak bahwa etos kerja islam itu dapat didefinisikan sebagai cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, tetapi juga sebagai suatu menifestasi dari amal sholeh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur (dalam Rozak,1997:208 ; Tasmara,1997:28).

Triyuwono mengemukakan tujuan utama organisasi menurut Islam adalah menyebarkan rahmat kepada semua makhluk. Tujuan itu secara normatif berasal dari keyakinan Islam dan misi sejati hidup manusia. Walaupun tujuan itu agaknya terlalu abstrak, tujuan itu dapat diterjemahkan pada tujuan-tujuan yang lebih praktis (operatif), sejauh penerjemahan itu masih terus terinspirasi dari dan meliputi nilai-nilai tujuan utama. Dalam pencapaian tujuan tersebut diperlukan peraturan etik untuk memastikan bahwa upaya yang merealisasikan baik tujuan utama maupun tujuan operatif selalu berada di jalan yang benar (dalam Arifuddin, et al., 2002:720).

Triyuwono mengungkapkan bahwa etika terekspresikan dalam bentuk syariah, yang terdiri dari Al-qur’an, Sunnah hadist, Ijma dan Qiyas. Didasarkan pada sifat keadilan, etika syariah bagi umat Islam berfungsi sebagai sumber serangkaian kriteria-kriteria untuk membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang buruk (batil).

Dengan menggunakan syariah, bukan hanya membawa individu lebih dekat dengan Tuhan, tetapi juga memfasilitasi terbentuknya masyarakat secara adil yang di dalamnya mencakup individu dimana mampu merealisasikan potensinya dan kesejahteraan yang diperuntukkan bagi semua umat (dalam Arifuddin, et al., 2002:720).

Menurut Triyono, syariah pada hakekatnya mempunyai dimensi batin (inner dimension) dan dimensi luar (outer dimension). Dimensi luar tersebut bukan hanya meliputi prinsip moral Islam secara universal, tetapi juga berisi perincian tentang, misalnya, bagaimana individu harus bersikap dalam hidupnya, bagaimana seharusnya ia beribadah. Dengan demikian konsep etos kerja Islam bersumber dari syariah (dalam Arifuddin, et al., 2002:720).

Afzulurrahman dalam Arifuddin et al (2002:720) mengungkapkan banyak ayat dalam Al-qur’an yang menekankan penting seseorang bekerja diantaranya adalah QS.An-Najm:39-40 (Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)) Dengan jelas dinyatakan dalam ayat itu bahwa satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu dari alam adalah dengan bekerja keras.

Keberhasilan dan kemajuan manusia dimuka bumi ini tergantung dari usahanya. Ali (1988: 576) dan Yousef (2000:515) juga menyatakan kerja keras dipandang sebagai sebuah kebaikan, dan mereka yang bekerja dengan keras lebih mungkin untuk mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidupnya. Sebaliknya tidak kerja keras dipandang sebagai penyebab kegagalan hidup. Singkatnya, etos kerja Islam berpendapat bahwa hidup tanpa kerja tidak memiliki arti dan melakukan aktivitas ekonomi merupakan suatu kewajiban.

Prinsip ini lebih lanjut dijelaskan dalam ayat-ayat berikut: Bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan (QS. An-Nisa:32). Ada jaminan bagikan untuk orang yang berusaha dan bekerja keras (QS. Al-Fussilat:10). Rasulullah Muhammad SAW besabda bahwa bekerja keras menyebabkan terbebas dari dosa dan tidak seorangpun makan-makanan yang lebih baik kecuali dia makan dari hasil kerjanya. Ali (dalam Yousef, 2000:515) sendiri mengatakan bahwa pandangan etos kerja Islam mendedikasikan diri pada kerja sebagai suatu kebajikan.

Referensi:
1. T. Tasmara, 2002, Membudayakan etos kerja islami
2. P.E. Dharajati, Pengaruh etos kerja Islam terhadap….