Pengertian Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaan. Ini terlihat pada sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu pekerjaan yang dihadapai di lingkungan kerjanya (Handoko, 2001). Kepuasan bawahan menunjukkan sikap dan perilaku bawahan pada pemimpin mereka. Seseorang yang puas akan melakukan hal yang positif dan membantu pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi, sedangkan jika tidak puas akan bersifat negatif dan tidak membantu pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi.

Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja menjadi masalah yang cukup menarik dan penting karena besar manfaatnya baik bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat. Bagi individu, penelitian tentang sebab-sebab dan sumbersumber kepuasan kerja memungkinkan timbulnya usaha-usaha peningkatan produksi dan pengurangan biaya melalui perbaikan sikap dan tingkah laku karyawannya. Selanjutnya bagi masyarakat tentunya akan menikmati hasil kapasitas maksimal dari organisasi atau perusahaan serta naiknya nilai manusia di dalam konteks pekerjaan.

Menaik juga dibaca: pengertian SOP

Gibson et al. dalam Utomo (2002) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah ekspresi seseorang terhadap penghargaan (well-being) yang diterimanya, terkait dengan pekerjaan yang dilakukannya. Penghargaan intrinsic dapat berupa adanya perasaan tanggung jawab, tantangan, dan pengakuan dari orang lain. Penghargaan ekstrinsik dapat berupa gaji, kondisi kerja, tingkat pengawasan, lingkungan kerja, supervise, dan sebagainya. Vroom dalam Danim (2004 : 10) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai orientasi sikap individu untuk berperan dalam pekerjaan yang sedang ditekuninya. Dengan kata lain, kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual, dimana setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Hal tersebut disebabkan karena adanya perbedaan pada masing-masing individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan individu tersebut maka makin tinggi pula tingkat kepuasan kerjanya. Demikian juga semakin sedikit aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai keinginan individu maka tingkat kepuasan kerjanya juga makin rendah.

Menurut Wexley dan Yulk dalam Padmastuti & Suyono (2003) kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, yang merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang didasarkan atas aspek-aspek dalam pekerjaan yang bermacam-macam. Masih dalam Padmastuti & Suyono (2003) terdapat pengertian serupa yang diberikan oleh McAffee dan Champagne yaitu bahwa kepuasan kerja adalah bagaimana perasaan seseorang mengenai berbagai aspek yang menyangkut pekerjaannya. Meski demikian kepuasan kerja tidak dapat secara langsung dilihat secara kasat mata tetapi dapat diperhatikan melalui perilaku yang ditunjukkan dan apa yang diungkapkan lewat kata-kata.

Robbins (2001 : 139), kepuasan kerja sebagai suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukkan sikap yang positif terhadap kerja itu, sebaliknya seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap yang negatif terhadap pekerjaan itu. Pekerjaan disini menuntut interaksi dengan rekan sekerja dan atasan, mengikuti aturan dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, dan kondisi kerja.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat diambil suatu batasan tentang kepuasan kerja yaitu perasaan bangga terhadap pekerjaan sebagai hasil penilaiannya sendiri terhadap keberhasilan melaksanakan tugas pekerjaannnya dan secara keseluruhan dapat memuaskan kebutuhannya. Luthan (1995 : 125) mengungkapkan bahwa ada tiga dimensi kepuasan kerja, yaitu :

  • Kepuasan kerja adalah suatu emosi yang merupakan respon terhadap situasi kerja. Hal ini tidak dapt dilihat tetapi hanya dapat diduga, atau hal ini tidak dapt dinyatakan tetapi tercermin dalm sikap karyawan.
  • Kepuasan kerja dinyatakan dengan perolehan hasil yang sesuai, atau bahkan melebihi yang diharapkan. Misalnya seorang karyawan bekerja sebaik yang mampu dilakukannya dan berharap mendapat imbalan atau penghargaan yang sepadan. Dan kenyataannya oleh perusahaan, ia mendapat gaji yang sesuai dengan harapannya dan oleh atasannya ia memperoleh pujian, maka karyawan puas dalam bakerja.
  • Kepuasan kerja biasanya dinyatakan dalam sikap seseorang yang tercermin dalam tingkah lakunya, misalnya : ia akan semakin loyal terhadap perusahaan, bekerja dengan baik, berdedikasi tinggi pada perusahaan, tertib dan mematuhi peraturan yang ditetapkan dan sikap-sikap lain yang bersifat positif.

Terdapat 5 karakteristik yang berhubungan dengan kepuasan kerja (Pool, 1997) yaitu sebagai berikut :

  1. Pekerjaan
    Sejauhmana pekerjaan menjadi tugas yang menarik, kesempatan untuk belajar dan bertanggungjawab bagi seorang individu.
  2. Gaji
    Jumlah finansial yang diterima karyawan dari hasil kerjanya dan dipandang sepadan terhadap lainnya dalam organisasi. Gaji memegang peranan penting dalam penentuan kepuasan kerja, hal ini disebabkan karena uang sebagai imbalan atas kerja keras seseorang merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap orang, dan gaji dianggap dapat menjadi simbol keberhasilan seseorang dalam bekerja sehingga keberadaannya mendapat pengakuan di mata orang lain. Karyawan seringkali melihat gaji sebagi refleksi perhatian atasan terhadap mereka.
  3. Kesempatan promosi
    Kesempatan untuk naik ke jenjang karir yang lebih tinggi dalam organisasi. Adanya kesempatan untuk dipromosikan dalam suatu perusahaan memberikan motivasi bagi karyawan untuk meningkatkan prestasi dan produktivitas kerjanya. Hal tersebut dapat terjadi terutama pada perusahaan yang mempromosikan karyawannya pada jabatan lebih tinggi berdasarkan prestasi yang telah dicapai selama kurun waktu tertentu bukan berdasarkan pada lama kerja atau senioritas karyawan.
  4. Atasan
    Kemampuan atasan untuk memberikan bantuan teknis serta dukungan kepada karyawan.
  5. Rekan kerja
    Sejauhmana rekan kerja memiliki kecakapan teknis dan memberikan dukungan.

Jenis-jenis Teori Kepuasan Kerja

a. Teori Selisih (Discrepency Theory)

Teori ini pertama kali dipelopori oleh Porter yang mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara hal yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan. Locke dalam Igalens dan Roussel (1999) kepuasan kerja bergantung pada selisih antara apa yang telah didapatkannya dengan apa yang menurut perasaannya telah dicapai melalui pekerjaannya. Oleh karena itu, orang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan.

b. Teori Keadilan (Equity Theory)

Menurut teori ini seseorang adil dengan membandingkan hasil rasio inputnya dengan hasil rasio input dari seorang atau sejumlah orang yang dibandingkan. Robbins (2001 : 180) dan Handoko (2001 : 267) mengemukakan bahwa orang merasa puas atau tidak puas, tergantung apakah ia merasakan keadilan atau tidak atas suatu situasi. Teori ini merinci bagaimana seseorang memilih orang bandingan atau banyak orang bandingan yang akan digunakan. Jika rasio hasil dibandingkan dengan input seorang pekerja adalah sama atau sebanding dengan orang bandingannya, maka suatu keadilan dianggap ada oleh pekerja. Jika para pekerja menganggap perbandingan tersebut tidak adil, maka keadaan ketidakadilan dianggap ada.

Adapun komponen dari teori ini adalah :

  1. Input, Segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan terhadap pekerjaan, misalnya pendidikan, pengalaman, skill, usaha, peralatan pribadi, jumlah jam kerja.
  2. Outcome, Segala sesuatu yang berharga, yang dirasakan karyawan sebagai hasil pekerjaannya, seperti upah, keuntungan tambahan, kesempatan untuk berprestasi atau mengekspresikan diri.
  3. Comparison person,
  4. Kepada orang lain dengan siapa karyawan membandingkan rasio input-outcomes yang dimilikinya.

c. Teori Dua Faktor

Teori Herzberg dalam Robbins (2001 : 170) membagi situasi yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap pekerjaannya menjadi dua kelompok yaitu kelompok satisfier atau motivator dan kelompok dissatisfier atau hygiene factors. Kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja